Selasa, 10 Juni 2014

FOTO: Kupi Kuli di Museum Kata Andrea Hirata

Museum Kata Andrea Hirata di Belitung. (VIVAlife/Rizky Sekar Afrisia)

Museum Kata Andrea Hirata di Belitung. (VIVAlife/Rizky Sekar Afrisia)

Mereka yang dapat menghargai kata-kata akan dihargai oleh kehidupan ini
-Andrea Hirata-

VIVAlife - Sebuah rumah di Jalan Laskar Pelangi, Belitung Timur, itu amat mencolok. Di depannya ada gapura berbentuk atap rumah yang dibuat dari kolase batu bata. Itulah gerbang masuk Museum Kata Andrea Hirata.

Rumah itu memang dipenuhi kata. Cuplikan sekelumit kisah dari buku-buku karya Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi tersebar di seluruh dindingnya. Masing-masing dibingkai apik. Foto-foto film Laskar Pelangi pun dicetak besar-besar dan dipajang.

Rumah itu terdiri tujuh ruangan utama. Di ruangan terdepan, dipajang sedikit informasi soal pembentukan museum yang berdiri sejak 2010 itu.

Di salah satu sudut, terdapat kaus-kaus yang dipajang untuk dijual. Masing-masing didesain dengan kata-kata indah. Hasil penjualan akan digunakan kembali untuk mengembangkan museum dan sekolah gratis.

Melangkah ke ruang besar di bagian tengah rumah, disediakan meja dan bangku panjang. Sekeliling dindingnya masih dipenuhi kata-kata dan foto film Laskar Pelangi. "Di sini biasanya turis-turis datang untuk menulis," kata Andrea pada VIVAlife.

Museumnya memang terbuka untuk siapa saja. Boleh datang melihat-lihat, mengambil foto, menyalurkan hobi, bahkan menumpang menulis dan tidur.

Ruangan itu pula tempat Andrea memajang buku-buku Laskar Pelangi yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Piala-piala, lirik lagu, dan alat musik lawas jadi dekorasi. Begitupula beberapa barang masa lampau.

Museum Kata Andrea Hirata

Museum Kata Andrea Hirata

Di samping kiri ruang tengah, terdapat tiga kamar dengan ukuran lebih kecil. Masing-masing untuk memajang cerita soal Ikal, tokoh utama Laskar Pelangi, ayahnya, dan sahabatnya Lintang.

Puas menjelajah ruangan itu, masih ada kisah lain di belakang. Andrea memajang kisah soal Mahar di sana. Di salah satu sudutnya, delapan buku karya Andrea juga dietalase.

Ruangan itu pun memuat cerita pendek berbahasa Inggris tulisan Andrea, yang tidak diterbitkan di manapun. Hanya sekali tampil di salah satu surat kabar internasional. Dry Season, judul cerita pendek itu.

"Dicetak besar, lengkap dari awal sampai akhir. Cuma ada di sini," tuturnya.

Semakin ke belakang rumah, penjelajahan semakin menarik. Andrea memasang beberapa tokoh sastra di salah satu sudut. Di antaranya: Virginia Woolf dan Ernest Hemingway.

Museum Kata Andrea Hirata

Museum Kata Andrea Hirata

Tepat bersebelahan dengan sudut sastra itu, terdapat warung kopi. Sebuah ceret beruap terus bertengger di atas tungku berbara kayu. Ada juga makanan ringan yang bisa dinikmati.

Rumah habis sampai di situ, namun Museum Kata Andrea Hirata masih panjang. Di samping rumah, Andrea menambah beberapa ruangan baru.

"Rencananya akan ada music room untuk yang ingin menyalurkan hobi seni, juga reading and writing room. Dan ini semua bebas dinikmati. Silakan datang kapan saja," ia menerangkan.

Sayang, masing-masing ruangan belum jadi sepenuhnya. Andrea masih sibuk membangun dan menata. Pria berambut keriting itu turun tangan langsung memberi komando. Ia bahkan ikut mengangkat-angkat meja.

Di sebelah ruangan itu, ada sekolah gratis. "Untuk anak-anak di sekitar sini. Tapi sekarang masih libur karena direnovasi," Andrea menjabarkan lagi.

Ia memang punya ekspektasi tinggi untuk Museum Kata Andrea Hirata. Harapannya, itu bisa menjadi destinasi utama di Belitung Timur, tanah kelahirannya. Museum itu, bahkan hanya berjarak sekitar empat rumah dari tempat tinggal orang tuanya dulu.

"Orang mengenal Belitung itu pantai-pantainya. Itu semua ada di Barat. Kalau Belitung Timur, punya budaya. Itulah yang ingin dipusatkan di museum ini," ujar Andrea. Dengan adanya museum, perekonomian masyarakat di wilayah Gantong pun bisa terangkat.

Tak main-main, Andrea bahkan punya mimpi menjadikan kampungnya sebagai desa sastra. Museum Kata Andrea Hirata dikenal sebagai museum sastra pertama di Indonesia. Andrea membuat konsep itu terinspirasi museum serupa yang pernah didatanginya di Iowa, Amerika.

"Ini museum bernuansa sastra. Ke sini seharusnya membaca karya-karya sastra yang ada di setiap ruang. Kalau bule ke sini, di tiap ruangan bisa sampai 30 menit, karena mereka membaca," tuturnya.

Yang jelas, dekorasi ruangan yang menarik memang membuat pengunjung betah berlama-lama. Membaca bingkai demi bingkai, melangkah ruangan demi ruangan, seakan membuat pengunjung bermesraan dengan kata.

Museum Kata Andrea Hirata

Museum Kata Andrea Hirata


http://life.viva.co.id/news/read/511294-foto--kupi-kuli-di-museum-kata-andrea-hirata
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger