Sabtu, 06 September 2014

Cegah Penyebaran Eb0la, Warga Sierra Le0ne Dilarang Keluar Rumah

VIVAnews - Pemerintah Sierra Leone mengambil langkah ekstrim untuk mencegah penyebaran virus mematikan Ebola. Mereka melarang warga keluar rumah selama tiga hari yakni 19 hingga 21 September 2014. 
Harian Inggris, The Guardian edisi Sabtu, 6 September 2014 melaporkan langkah ini bertujuan agar para pekerja kesehatan bisa mengidentifikasi dan mengisolasi kasus baru. Menurut Penasihat Presiden, Ibrahim Ben Kargbo, keputusan yang diumumkan ke publik pada Jumat, 5 September 2014 itu diharapkan dapat mencegah penyebaran penyakitnya di Sierra Leone.
"Pendekatan agresif dibutuhkan untuk menangani penyebaran Ebola untuk saat ini dan selamanya," kata Kargbo.
Selama larangan tersebut diberlakukan, maka ribuan polisi dan pasukan militer akan dikerahkan ke area yang paling parah terkena wabah Ebola. Selain itu, sebanyak 21 ribu orang telah direkrut untuk memastikan larangan keluar rumah itu dipatuhi.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Sierra Leone, Sidie Yahya yang ditemui BBC mengatakan dia berharap warga akan mematuhi larangan tersebut. 
"Anda mengikuti aturan itu atau dianggap melanggar hukum. Jika Anda melanggarnya, maka Anda melanggar perintah Presiden," kata Yahya.
Sementara, Menteri Informasi, Alpha Kanu, meminta kepada warga untuk menganggap situasi ini mirip ketika tengah dilanda perang. Oleh sebab itu, dia menyarankan warga agar mulai membeli keperluan logistik untuk persiapan selama tiga hari.
Menurut laporan koresponden BBC di Afrika, Thomas Fessy, kunci dari suksesnya aturan itu, yakni niat warga untuk mematuhinya. Sementara, isu lain yang muncul yaitu adanya hak asasi manusia yang dilanggar dan bahkan bisa memicu terjadinya demonstrasi yang berujung tindak kekerasan.
Sebagai contoh, pada bulan lalu, ketika Liberia memberlakukan karantina terhadap sebuah area kumuh di dekat ibukota Monrovia selama satu minggu lebih, justru berujung kericuhan.
Tidak Efektif
Sementara aturan tersebut dinilai oleh organisasi amal Dokter Tanpa Batas (MSF) tidak efektif. Juru bicara MSF mengatakan, dengan mengurung warga justru malah mempercepat penyebaran virus tersebut. 
"Berdasarkan pengalaman kami, kebijakan itu justru memicu warga untuk menyembunyikan fakta mereka telah terinfeksi Ebola dari otoritas setempat. Selain itu, larangan keluar rumah malah akan membahayakan rasa percaya antara publik dengan petugas kesehatan," ujar juru bicara tersebut.
Ketimbang mengurung warga di rumah, imbuh juru bicara MSF, virus Ebola akan lebih efektif dikendalikan dengan menyediakan lebih banyak tempat tidur khusus. 
"Apa yang dibutuhkan Sierra Leone dan Liberia saat ini lebih banyak tempat tidur di pusat pengelolaan kasus Ebola dan mereka membutuhkannya saat ini juga," tegas juru bicara itu.
Sementara menurut Dokter Kandungan dan Direktur Program Kesehatan Ibu, MamaYe di Freetown, Liberia, Mohamed Yilla setuju dengan kebijakan pemerintah. Namun, dia mengingatkan setelah pemerintah berhasil mengidentifikasi banyaknya kasus baru Ebola, berarti mereka harus siap dengan logistik kesehatan. 
Artinya, ujar Yilla, harus ada mobil ambulans yang cukup untuk membawa pasien dari rumah menuju ke rumah sakit, staf kesehatan yang terlatih untuk memeriksa darah pasien dan fasilitas rumah sakit yang baik. 
Data dari The Guardian terdapat 1.179 kasus infeksi Ebola di Sierra Leone, termasuk perawat asal Inggris, Will Pooley. Kondisi Pooley saat ini sudah mulai membaik setelah dirawat di Inggris.
Sementara lebih dari 20 pekerja kesehatan di Sierra Leone tewas akibat Ebola.
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/535823-cegah-penyebaran-ebola--warga-sierra-leone-dilarang-keluar-rumah
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger