Senin, 08 September 2014

Tenaga Musiman Haji dari Mar0k0 Tiba di Arab, Suriah Undur Diri

VIVAnews - Enam mahasiswa asal Indonesia yang tengah menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di Maroko tiba di Arab Saudi. Mereka menjadi tenaga musiman (temus) yang dikontrak Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia di Arab Saudi.

Total temus yang direkrut termasuk warga Indonesia yang bermukim di Arab Saudi (mukimin) sebanyak 533 orang. Dari jumlah ini,  125 orang di antaranya warga Indonesia yang menuntut ilmu di Mesir, Sudan, Maroko, Yordania, Libya, Suriah, Libanon, Yaman, dan Tunisia. Temus mahasiswa ini berusia 22-29 tahun.

Temus dari Maroko tiba di Arab, Minggu kemarin. Bergabungnya temus asal Maroko ini menambah barisan petugas mahasiswa dari sudah bergabung dengan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji. Sebelumnya lima temus yang belajar di Yordania telah bergabung dan ditempatkan di Daerah Kerja Madinah dan Mekah.

Ketua PPIH Arab Saudi Akhmad Jauhari ditemui di Kantor Urusan Teknis Haji, Jeddah, Arab Saudi, Senin 8 September 2014, berharap temus-temus mahasiswa dari tujuh negara lainnya segera bergabung. Kebanyakan mereka terhambat menuju Arab Saudi masih terkendala masalah visa.

Sebetulnya, kata Jauhari, mekanisme perekrutan temus sudah dilakukan sesuai prosedur. Sebelum bulan Ramadan, kantor Teknis Urusan Haji (TUH) Indonesia di Jeddah meminta bantuan perwakilan mahasiswa di negara-negara bersangkutan untuk melakukan rekrutmen. Usulan penetapan temus juga sudah masuk ke TUH. Dan, berdasarkan usulan tersebut, TUH menyampaikan usulan calling visa yang ditujukan ke Kementerian Luar Negeri Arab Saudi. Sebelumnya TUH juga sudah meminta persetujuan dari Kementerian Haji Arab Saudi.

Calling visa adalah proses memanggil seseorang oleh Kedubes Arab Saudi di mana mahasiswa-mahasiswa itu berada. Tanpa calling visa, visa haji tidak dapat diberikan. Ini proses yang sudah dilakukan bertahun-tahun.

Namun untuk tahun ini, sampai bulan Syawal, TUH belum mendapat pemberitahuan dari KBRI terkait calling visa temus mahasiswa. Pemberitahuan baru diperoleh seminggu sebelum operasional haji pada 1 September 2014 dilaksanakan.

KBRI langsung mengirimkan kawat ke Kedutaan Besar Arab Saudi di mana mahasiswa berada. Namun KBAS-KBAS di sembilan negara itu menerapkan kebijakan berbeda-beda.

Mesir, misalnya, kini menerapkan sistem elektronik visa, sehingga mahasiswa Indonesia di negara itu terkendala masuk ke Arab karena proses pengurusan visa memakan waktu lama. Mahasiswa Indonesia di Sudan juga mengalami kendala serupa.

Temus Suriah Mengundurkan Diri

Untuk mahasiswa Indonesia di Suriah, alokasi temus mencapai tujuh orang. Namun Suriah mengeluarkan kebijakan, tidak memperbolehkan mahasiswa ke luar dari Suriah. Negeri yang tengah berkonflik ini menerapkan dua pilihan. Mahasiswa yang ke luar tidak akan diberikan reentry lagi. Artinya, mereka tidak akan bisa masuk ke Syria lagi. Atau, mereka tetap berada di Syria dengan konsekuensi tidak bisa menjadi temus haji.

"Karena ada pilihan seperti itu, dari tujuh mahasiswa yang dialokasikan untuk Suriah, lima orang menyatakan mundur. Dua orang siap datang," kata Jauhari.

Lima orang mahasiswa ini memilih melanjutkan studi di negeri itu. Sedangkan dua orang lainnya bersedia bergabung karena pendidikannya telah selesai dan siap pulang ke tanah air. Mereka yang tidak jadi bergabung posisinya akan digantikan para mukimin (warga Indonesia yang bermukim di Arab Saudi).

"Tidak ada penjelasan ini terkait politik. Kawat yang diterima KBRI hanya menjelaskan seperti itu, pemerintah di sana tidak akan memberikan reentry lagi," kata Jauhari.

Sebenarnya, setiap tahun setiap negara memiliki kebijakan berbeda-beda. Namun tahun ini bisa dikatakan yang paling bermasalah sehingga temus-temus mahasiswa terlambat datang ke Arab Saudi. Jauhari berharap sebelum 10 September para temus sudah bisa bergabung dengan PPIH.

"Kemarin kami sudah dapat info dari Sudan, sudah mau datang tapi sampai kemarin visa belum turun. Sekarang belum dapat update lagi dari kawan-kawan mahasiswa," katanya.

Tahun lalu, kata dia, mahasiswa yang mendapat kesulitan justru dari Maroko. Tahun lalu negara ini tidak memberikan visa sebelum visa warganya diproses. "Sekarang malah sudah datang, Mesir dan Sudan malah belum. Sebenarnya mereka ingin cepat bergabung tapi terkendala urusan visa," kata Jauhari.

Para temus ini akan dikontrak sesuai masa kerjanya. Kalau di Mekah selama 60 hari, sedangkan di Jeddah dan Madinah 70 hari. Mereka mendapat honor Rp825 ribu per hari. Namun dipotong pajak 15 persen.


http://nasional.news.viva.co.id/news/read/536305-tenaga-musiman-haji-dari-maroko-tiba-di-arab--suriah-undur-diri
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger