Senin, 01 September 2014

Wajib Tahu, Saat PMS Butuh Penanganan Medis

Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan kondisi medis yang masih dianggap sepele. (foto ilustrasi) (iStock)

Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan kondisi medis yang masih dianggap sepele. (foto ilustrasi) (iStock)

VIVAlife – Premenstrual Syndrome (PMS) atau sindrom premenstrusi merupakan hal yang umum dialami kaum hawa. Namun, bagi beberapa orang, PMS bisa menjadi derita tersendiri. Sayangnya, masyarakat masih menganggap enteng soal PMS. Padahal PMS merupakan kondisi medis yang harus ditangani secara profesional bisa berubah parah.

Dr. Parul R Seth, konsultan kesehatan biologi reproduksi mengatakan, gejala PMS bisa berubah parah bagi beberapa wanita.

"Gejala PMS biasanya mulai dirasakan dua minggu sebelum menstruasi berlangsung, namun gejalanya akan semakin menguat dua atau tiga hari sebelumnya dan berkurang di hari-hari awal menstruasi," kata Dr. Seth, dilansir Times of India.

Selain itu, Dr Seth menjelaskan, PMS terjadi akibat perubahan hormon selama siklus menstruasi. Umumnya, menstruasi ditandai dengan gejala perubahan suasana hati mendadak juga kondisi emosi yang lebih sensitif.

Menjelang menstruasi, wanita umumnya lebih mudah merasa sedih, terganggu dan marah. Sementara gejala fisik yang umum terjadi adalah perut kembung dan mulas, mudah lapar, sakit kepala, payudara menegang, jerawat, serta kaku otot.

Sebagian perempuan mengungkapkan, gejala PMS yang dialami tidak terlalu mengganggu. Namun beberapa justru mengatakan PMS yang mereka alami bisa sangat parah sehingga mengganggu rutinitas harian.

"Ada yang mengeluh sakit kepala kronis, depresi akut, hingga tubuh yang sangat lemas sehingga menghalangi mereka untuk beraktivitas," ucap Dr. Seth.

Lebih lanjut, Dr. Seth mengatakan, jika gejala PMS dirasa lebih parah dari biasanya dan mulai mengganggu aktivitas harian maka konsultasi pada pihak medis mutlak diperlukan.

"Jika terlalu parah, mengatasi PMS harus dibantu dengan obat-obatan. Anti depresan serta obat penghilang rasa sakit adalah resep yang biasa diberikan agar gejala berkurang. Selain itu, pil kontrasepsi juga bisa menjadi solusi bagi mereka yang mengalami PMS berat," ujar dia.

Adapun, mengatasi PMS bisa diatasi dengan pola makan yang tepat.

"Makanan yang tepat bisa membantu mengatasi PMS. Menjelang menstruasi wanita seharusnya menghindari karbohidrat, gula, makanan berminyak dan pedas, serta daging merah," ujar Dr. Seth.

Tidak hanya itu, wanita yang kerap mengonsumsi kafein juga biasanya memiliki gejala PMS yang parah dibanding mereka yang tidak.

"Oleh karena itu, dokter seringkali menganjurkan agar wanita mengurangi konsumsi kafein menjelang menstruasi," katanya.

Selain itu, perubahan gaya hidup juga bisa menjadi cara mengurangi gejala PMS. Rutin berolahraga atau relaksasi seperti pijat dan spa, bisa menjadi solusi mengurangi ketegangan yang berkaitan dengan PMS.

"Yang harus diingat, ketika gejala PMS muncul, wanita harus lebih banyak beristirahat dan mengonsumsi makanan bernutrisi yang bisa menyeimbangkan hormon dalam tibuh," ucap Dr. Seth. (ms)


http://life.viva.co.id/news/read/534089-wajib-tahu--saat-pms-butuh-penanganan-medis
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger